
Gobidik.com – Gorontalo – Gelombang kecaman terhadap Pimpinan Cabang Bank Negara Indonesia (BNI) Gorontalo terus menguat.
Massa aksi mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menuding Pimcab BNI Gorontalo telah melakukan penghinaan terhadap mahasiswa di ruang Dekan Fakultas Ekonomi UNG, serta diduga melibatkan preman untuk mengintimidasi pimpinan aksi.
Penghinaan tersebut, menurut keterangan Agung Bobihu (Korlap), terjadi dalam sebuah pertemuan di ruang Dekan Fakultas Ekonomi UNG di depan Dekan ,WD3, Kajur akuntansi.
Dalam forum akademik itu, Pimcab BNI Gorontalo diduga melontarkan pernyataan yang merendahkan mahasiswa.
“Dia mengatakan mahasiswa itu kecil, tidak punya hak bersuara di media pers, dan tidak mampu melawan BNI. Ini diucapkan di ruang Dekan FE UNG, bukan di warung kopi.
Ini pelecehan serius terhadap martabat mahasiswa dan institusi kampus,” tegas Korlap aksi.
Massa menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk arogansi kekuasaan, sekaligus upaya membungkam suara kritis mahasiswa.
Mereka menyebut sikap tersebut mencerminkan mental anti-demokrasi dan tidak menghormati kebebasan berpendapat.
“Mahasiswa dianggap kecil, dianggap tidak punya hak, dianggap tidak mampu melawan. Ini bukan hanya menghina, tapi juga mengintimidasi secara psikologis. Seolah-olah kami disuruh diam karena mereka besar,” teriak salah satu orator.
Tak berhenti di situ, massa juga mengungkap dugaan intimidasi fisik menggunakan preman.
Korlap mengaku mendapat ancaman setelah aksi demonstrasi pertama yang digelar pada September 2024.
“Setelah aksi September 2024, saya didatangi orang-orang tidak dikenal, diancam secara langsung.
Mereka bukan aparat, bukan pegawai bank. Kami menduga kuat itu preman. Ini teror, ini upaya menakut-nakuti kami agar berhenti bersuara,” ungkap Korlap.
Massa menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengecut dan pelanggaran serius terhadap prinsip demokrasi.
Mereka menilai penggunaan preman untuk mengintimidasi aktivis mahasiswa adalah tindakan kriminal dan harus diusut tuntas.
“Kalau merasa benar, kenapa harus pakai preman? Kenapa harus mengancam? Ini bukan negara preman, ini negara hukum,” teriak Agung dalam orator.
Aksi di depan Kantor BNI Gorontalo sempat memanas karena kekecewaan massa terhadap sikap Pimcab yang dinilai arogan dan selalu menghindar.
Massa menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur meski dihina dan diintimidasi.
“Kami mungkin kecil di mata mereka, tapi kami tidak kecil di hadapan kebenaran.
Intimidasi tidak akan membungkam kami,” tegas Agung Bobihu.
Hingga berita ini diturunkan, pihak BNI Cabang Gorontalo belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan penghinaan terhadap mahasiswa di ruang Dekan FE UNG maupun dugaan intimidasi menggunakan preman terhadap Korlap pasca aksi September 2024.
Massa aksi menyatakan akan membawa persoalan ini ke pihak berwenang, termasuk aparat penegak hukum, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan manajemen pusat BNI.
“Penghinaan dan teror ini tidak boleh dibiarkan. Ini soal martabat mahasiswa dan keselamatan aktivis. Kami akan lawan sampai tuntas,” tutup Korlap aksi.
M.fadli #gobidik_
Tidak ada komentar