Dalih pencarian korban longsor lama dinilai hanya menjadi kedok licik untuk membuka kembali akses alat berat ke kawasan rawan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

waktu baca 3 menit
Sabtu, 17 Jan 2026 23:43 156 Redaksi

Gobidik.com – Gorontalo – Aktivis dan tokoh muda Bone Bolango, Fajri Langgene, secara terbuka menuding adanya manuver terstruktur oleh oknum tertentu yang memanfaatkan isu kemanusiaan demi melanggengkan aktivitas tambang ilegal di wilayah Tulabolo Timur, Kecamatan Suwawa Timur.


‎Sorotan keras ini mencuat menyusul viralnya sebuah video yang memperlihatkan satu unit ekskavator beroperasi di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW)—wilayah konservasi yang secara hukum tertutup mutlak bagi aktivitas alat berat dan pertambangan.

‎“Ini bukan lagi soal miskomunikasi administratif.

Ini sudah masuk dugaan rekayasa alasan. Pencarian korban dijadikan tameng untuk memasukkan ekskavator ke wilayah tambang ilegal,” tegas Fajri Langgene, Jumat (17/1/2026).

‎Fajri menilai, surat pemberitahuan Forum Penambang Rakyat Bone Bolango (FPR-BB) yang dijadikan dasar awal mobilisasi alat berat tidak memiliki kekuatan hukum dan sama sekali tidak dapat disamakan dengan izin penggunaan alat berat di kawasan taman nasional.

‎Kecurigaan tersebut semakin menguat karena operasi pencarian korban longsor Motomboto secara resmi telah ditutup sejak beberapa tahun lalu oleh Basarnas bersama TNI–Polri serta instansi terkait lainnya.

Fakta penutupan itu juga pernah ditegaskan secara terbuka oleh Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa.

‎“Kalau negara sudah menutup operasi itu secara kelembagaan, lalu siapa yang memberi restu membuka kembali alat berat? Ini jelas bukan inisiatif spontan,” ujarnya.

‎Lebih lanjut, Fajri mengungkapkan bahwa berdasarkan keterangan sumber terpercaya di lapangan, ekskavator yang viral tersebut tidak sepenuhnya beroperasi di titik longsor Motomboto, melainkan diduga kuat diarahkan ke wilayah Desa Tulabolo Timur—kawasan yang selama ini dikenal sebagai episentrum PETI di Kabupaten Bone Bolango.

‎“Inilah yang diduga sengaja ditutup-tutupi. Suratnya berbicara soal pencarian jasad, tetapi pergerakan alat berat justru mengarah ke zona tambang.

Ini indikasi penyimpangan serius,” kata Fajri.

‎Menurut tokoh muda Bone Bolango itu, pola semacam ini bukan hal baru.

Narasi kemanusiaan kerap dijadikan pintu masuk, sementara tujuan sebenarnya adalah menghidupkan kembali aktivitas tambang ilegal dengan dukungan alat berat.

‎Fajri juga menegaskan bahwa mustahil alat berat dapat masuk dan beroperasi di kawasan TNBNW tanpa pembiaran atau perlindungan oknum tertentu.

‎“Ekskavator itu bukan sepeda motor. Ada jalur yang dibuka, ada logistik, ada pengamanan.

Kalau ada yang mengaku tidak tahu, itu justru mempermalukan akal sehat publik,” sindirnya.

‎Atas dasar itu, Fajri mendesak aparat penegak hukum untuk tidak berhenti pada klarifikasi normatif semata, melainkan segera melakukan pengusutan menyeluruh, termasuk:

‎siapa pemilik ekskavator,

‎siapa yang memerintahkan mobilisasi alat berat,

‎siapa operator di lapangan, dan

‎siapa oknum yang membuka akses masuk ke kawasan konservasi negara.

‎“Kalau praktik seperti ini dibiarkan, berarti negara benar-benar kalah oleh jaringan PETI,” tegasnya.

‎‎Fajri mengingatkan bahwa pencarian korban longsor adalah isu kemanusiaan yang sakral.

Menjadikannya sebagai kedok untuk perusakan taman nasional merupakan kejahatan berlapis yang mencederai hukum dan nurani publik.

‎“Ini bukan hanya menghina hukum, tetapi juga menghina para korban longsor itu sendiri.

Kemanusiaan diperdagangkan demi emas,” ucapnya.

‎‎Ia menutup pernyataannya dengan peringatan keras: jika aparat dan pemerintah daerah gagal bertindak tegas, maka publik berhak menduga adanya pembiaran sistematis terhadap kejahatan lingkungan di Bone Bolango.

‎“Taman Nasional Bogani bukan ladang emas.

Jika alat berat terus dibiarkan masuk, maka yang akan longsor berikutnya adalah wibawa negara,” pungkas Fajri Langgene, aktivis dan tokoh muda Bone Bolango.

M.fadli #gobidik_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    LAINNYA