MEMAKNAI RETREAT WARTAWAN PWI DALAM KONTEKS BELA NEGARA KONTEMPORER

waktu baca 2 menit
Senin, 2 Feb 2026 14:50 232 Redaksi

Gobidik.com – Bogor – Perubahan karakter ancaman terhadap negara menuntut cara pandang baru dalam memaknai konsep bela negara.

Jika pada masa lalu pertahanan nasional identik dengan kekuatan militer dan penjagaan wilayah, maka dalam konteks kontemporer, ancaman terhadap negara justru banyak bergerak di ruang nonfisik, terutama di ruang informasi.

Dalam situasi tersebut, kegiatan Retreat Wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang diikuti sekitar 200 wartawan dari berbagai daerah di Indonesia memperoleh relevansi strategis sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.

Retreat ini diselenggarakan pada 29 Januari hingga 1 Februari 2026 di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Akademisi dan pengamat komunikasi politik, Dr. Bagus Sudarmanto, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa peran wartawan dalam konteks bela negara saat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika ancaman nontradisional yang berkembang pesat seiring kemajuan teknologi informasi.

“Ancaman terhadap negara saat ini tidak selalu berbentuk agresi bersenjata.

Disinformasi, hoaks, perang narasi, polarisasi sosial, hingga delegitimasi institusi negara merupakan ancaman nyata yang bekerja secara halus namun sistemik,” ujar Dr. Bagus.

Dalam kajian keamanan modern, ancaman terhadap negara umumnya dibedakan menjadi ancaman tradisional dan ancaman nontradisional, sebagaimana dikemukakan oleh Barry Buzan, Ole Wæver, dan Jaap de Wilde (1998).

Ancaman tradisional bersifat militer dan kasatmata, seperti agresi bersenjata, pelanggaran wilayah, atau konflik antarnegara.

Sebaliknya, ancaman nontradisional bergerak melalui mekanisme sosial, politik, budaya, dan informasi.

Menurut Dr. Bagus, di sinilah posisi strategis wartawan menjadi sangat krusial.

Wartawan tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penjaga nalar publik, penyeimbang arus informasi, serta benteng pertama dalam melawan manipulasi opini dan distorsi fakta.

“Retreat ini bukan sekadar kegiatan penguatan kapasitas jurnalistik, tetapi juga menjadi ruang refleksi ideologis dan etis bagi wartawan untuk meneguhkan komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945, dan keutuhan NKRI,” tegasnya.

Ia menambahkan, penguatan wawasan bela negara bagi insan pers harus dimaknai sebagai upaya menjaga independensi, profesionalisme, serta tanggung jawab moral wartawan dalam menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan masyarakat.

Kegiatan Retreat Wartawan PWI ini diharapkan mampu melahirkan jurnalis-jurnalis yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat, sehingga mampu berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas sosial, politik, dan demokrasi Indonesia di tengah derasnya arus informasi global.

Dengan demikian, retreat wartawan bukan hanya agenda organisasi, melainkan bagian integral dari strategi nasional dalam memperkuat ketahanan bangsa melalui sektor informasi dan komunikasi publik.

#gobidik_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    LAINNYA