
Gobidik.com-Bulangita, Pohuwato — Alam Bulangita kini sedang berteriak minta tolong. Bukit-bukit digunduli, sungai tercemar limbah tambang, dan tanah retak menganga akibat aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) yang semakin brutal. Namun pemerintah desa, khususnya Kepala Desa Bulangita, justru memilih bungkam.
Saat dikonfirmasi wartawan, Kades Bulangita hanya berkilah: “Saya sedang sakit.”
Pertanyaannya, apakah alasan sakit cukup untuk membenarkan pembiaran terhadap kerusakan alam yang kian mengancam keselamatan warga?
Warga Bulangita sudah lama tahu, PETI bukan lagi aktivitas sembunyi-sembunyi. Alat berat keluar-masuk, hutan lenyap dalam waktu singkat, tapi aparat desa hanya menonton. Publik pun mulai bertanya-tanya:
Siapa yang diuntungkan dari tambang ilegal ini?
Apakah ada setoran yang membuat hukum menjadi tidak berkutik?
Polres Pohuwato juga disorot. Kapolres dianggap tidak memiliki ketegasan untuk memutus rantai mafia tambang yang semakin berkuasa. Ketika penegakan hukum tak berjalan, masyarakat yang harus menanggung akibatnya.
Ini bom waktu!
Dalam video yang telah beredar luas, banjir kini sudah menghampiri pemukiman warga hingga di sekitar kantor desa. Jika tutupan hutan habis dan struktur tanah rusak, bukan hanya banjir — longsor dan kematian bisa datang kapan saja.
Diam dalam situasi seperti ini bukan lagi kelemahan.
Diam adalah bentuk kejahatan baru.
Bulangita tidak butuh pemimpin yang bersembunyi di balik alasan.
Bulangita butuh pemimpin yang berdiri paling depan menyelamatkan rakyat dan alamnya.
*Jika pembiaran ini terus berlangsung, bencana bukan hanya ancaman — tapi kepastian waktu.*
M.Fadli # gobidik_
Tidak ada komentar