Kasat Reskrim Baru Diuji di Awal Jabatan! Aktivis Lingkungan M. Fadli Tantang Transparansi Kasus 7 Alat Berat PETI di Dam Pohuwato

waktu baca 2 menit
Sabtu, 18 Apr 2026 23:38 97 Redaksi

Gobidik.com – Pohuwato – Gorontalo, Pergantian Kasat Reskrim Polres Pohuwato seharusnya menjadi momentum baru bagi penegakan hukum di daerah yang selama ini disorot publik karena maraknya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Namun, aktivis lingkungan M. Fadli justru langsung melontarkan tantangan terbuka kepada pejabat baru tersebut untuk membuktikan komitmennya secara nyata, bukan sekadar formalitas seremonial.

Menurut Fadli, pergantian pimpinan di tubuh Reskrim harus menjadi angin segar bagi penuntasan berbagai persoalan hukum yang selama ini menggantung, khususnya kasus tambang ilegal yang dinilai merusak lingkungan dan mencederai kepercayaan masyarakat.

“Pergantian kasat baru harusnya menjadi angin segar.

Banyak persoalan hukum di Kabupaten Pohuwato, khususnya PETI, yang selama ini tidak jelas penyelesaiannya,” tegas Fadli.

Sorotan tajam diarahkan pada operasi pengamanan tujuh unit alat berat di wilayah Dam Pohuwato yang sebelumnya diumumkan pihak Reskrim.

Hingga kini, menurut Fadli, publik belum mendapatkan kepastian apakah alat berat tersebut benar-benar diamankan sebagai barang bukti di Polres Pohuwato, atau hanya sebatas pendataan dan konsumsi pemberitaan di media sosial. 📢

“Yang menjadi pertanyaan publik hari ini, apakah tujuh alat berat itu benar-benar diamankan di Polres Pohuwato sebagai barang bukti? Atau hanya sekadar formalitas pemberitaan tanpa kejelasan keberadaan fisiknya?” ujarnya tajam.

Fadli menegaskan bahwa transparansi adalah kunci utama membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum, terutama dalam kasus-kasus besar yang berkaitan langsung dengan kerusakan lingkungan dan dugaan jaringan tambang ilegal yang terstruktur.

Ia bahkan secara terbuka menantang Kasat Reskrim baru untuk menunjukkan bukti nyata kepada publik.

“Jika tidak ada kejelasan, maka saya, M. Fadli, menantang Kasat Reskrim baru untuk menunjukkan secara terbuka kepada publik transparansi penegakan hukum terhadap tujuh alat berat tersebut.

Jangan sampai publik menilai penindakan hanya sebatas panggung media tanpa langkah hukum nyata,” tegasnya.

Lebih jauh, Fadli menilai bahwa kasus tujuh alat berat ini bisa menjadi ujian pertama integritas dan keberanian Kasat Reskrim baru dalam membersihkan praktik PETI di Pohuwato.

Jika transparansi tidak segera diberikan, maka wajar apabila masyarakat mulai mempertanyakan keseriusan aparat dalam menindak jaringan tambang ilegal yang selama ini diduga kuat beroperasi secara sistematis.

“Publik menunggu keberanian, bukan pencitraan,” tutup Fadli.

Narasi tantangan ini diperkirakan akan menjadi perhatian luas masyarakat Pohuwato, khususnya kelompok masyarakat sipil dan aktivis lingkungan yang selama ini konsisten mendesak penertiban aktivitas PETI di wilayah tersebut.

#gobidik_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    LAINNYA