Opini: Tanah yang Menelan Anak-Anaknya — Tragedi Longsor di Buntulian, Pohuwato _Oleh: M. Fadli — Aktivis Lingkungan

waktu baca 2 menit
Minggu, 2 Nov 2025 14:20 115 Redaksi

 
Gobidik.com-Gorontalo-Tanah Buntulia kembali bergetar, bukan karena gempa, tetapi karena jeritan manusia yang tertimbun hidup-hidup oleh longsor. Di tengah aktivitas tambang tanpa izin (PETI), bumi yang dulu memberi kehidupan kini menelan anak-anaknya sendiri. Satu per satu, nyawa melayang di tanah yang mestinya menjadi rumah, bukan liang kubur.

Tragedi longsor di Desa Buntulia, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato bukan sekadar berita duka ini adalah tamparan keras bagi nurani kita semua. Di balik lumpur dan debu yang menutup tubuh korban, tersimpan kisah panjang tentang ketidakadilan, kerakusan, dan diamnya negara.

Hujan yang turun semalam hanya pemicu, bukan penyebab. Penyebab sebenarnya adalah manusia yang terlalu rakus, dan sistem yang terlalu lemah. Lereng-lereng dikeruk, hutan dibabat, alat berat bekerja tanpa izin, tanpa pengawasan. Dan ketika tanah akhirnya ambruk, yang tertimbun bukan cuma batu dan pasir, tapi juga harapan keluarga, air mata istri, dan masa depan anak-anak kecil yang kini kehilangan ayahnya.

Ironisnya, setiap kali nyawa melayang, selalu ada narasi klise: “musibah, takdir, kecelakaan kerja.” Padahal yang kita saksikan bukan takdir — ini kejahatan yang dibiarkan. Ketika alat berat bebas bekerja tanpa izin, ketika tambang ilegal menjadi rahasia umum, dan ketika aparat serta pejabat menutup mata, maka kematian bukan lagi musibah, tapi konsekuensi dari kelalaian bersama.

Saya menulis ini dengan amarah dan getir. Sebab setiap kali tanah Pohuwato menelan korban, yang datang hanyalah janji dan simpati sesaat. Tidak ada yang benar-benar berubah. Tidak ada yang benar-benar peduli.

Berhentilah bersembunyi di balik kata “tambang rakyat”. Rakyat yang mana? Rakyat yang harus mati di dalam lubang tambang? Rakyat yang hidupnya digadai oleh pemodal? Atau rakyat yang kehilangan sawah karena airnya kini keruh bercampur lumpur dan merkuri?

Sudah cukup. Pohuwato tidak butuh lagi janji, tetapi tindakan nyata. Tutup tambang ilegal, usut pemilik alat berat, hentikan eksploitasi tanpa izin, dan hadirkan solusi ekonomi yang manusiawi bagi penambang kecil. Jangan biarkan mereka terus menggali kuburannya sendiri demi sesuap hidup.

Dan untuk mereka yang telah tiada biarlah nama-nama itu menjadi pengingat, bahwa di bumi yang kita cintai ini, emas masih lebih berharga dari nyawa. Tapi selama masih ada nurani, selama masih ada suara, aku — dan banyak orang yang peduli — tidak akan diam.

Karena alam bukan warisan, tapi titipan.
Dan setiap titipan yang dirusak, akan menagih balasannya — cepat atau lambat.

gobidik

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    LAINNYA