Antrean BBM di Buol Mencapai Titik Panjang, Ini Penjelasan soal Distribusi

waktu baca 2 menit
Rabu, 16 Sep 2026 22:53 4 Redaksi

Gobidik.com -Buol, Sulawesi Tengah –Antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Buol, termasuk SPBU 7494509 Kampung Bugis dan SPBU Kali, memicu perhatian publik.

Hasil koordinasi dan klarifikasi resmi antara Pemerintah Daerah Kabupaten Buol dengan pengelola SPBU mengungkap faktor utama di balik fenomena antrean tersebut.

Berdasarkan pembahasan pada Rabu (16/9/2026) antara ass II Syarif pusadan, SE bersama Plt. Kabag Perekonomian dan SDA Sekretariat Daerah Kabupaten Buol, Ir. Ani Siti Hanifah, ST.MT, dengan Penanggung Jawab SPBU Kampung Bugis, Bapak Cipto, dan SPBU kali wayan terungkap adanya selisih signifikan antara jumlah BBM yang diminta SPBU (permintaan) dengan yang dikirimkan oleh Pertamina (realisasi).

Pasokan BBM Terbatas dan Penyesuaian Realisasi
​Dalam kondisi normal, SPBU mengajukan permintaan dan menerima pasokan BBM rata-rata sebesar 32 Kilo Liter (KL).

Namun, sejak sekitar dua minggu lalu, terjadi penurunan realisasi penyaluran yang cukup signifikan:
​Pengiriman Tertentu: Dari permintaan sebesar 32 KL, pasokan yang direalisasikan hanya sebesar 16 KL (terjadi penurunan pasokan hingga -16 KL).

Pengiriman Berikutnya: Dari permintaan sebesar 24 KL, realisasi yang diterima hanya mencapai 8 KL atau disesuaikan dengan kuota realisasi.

​Penurunan alokasi pasokan BBM dari Pertamina ke SPBU ini memicu gangguan pada ketersediaan harian di tingkat penyalur.

Faktor Penyebab Kendala Suplai
​Informasi dari lapangan menunjukkan bahwa terbatas dan berkurangnya suplai BBM dipicu oleh beberapa dinamika distribusi:
​Keterlambatan Armada Tanker: Adanya kendala pengangkutan dan keterlambatan ketibaan tanker pasokan BBM.

Kondisi Stok Depot: Penyesuaian ketahanan stok yang ada di depot penyimpanan.

Pengaturan Distribusi Pertamina: Kebijakan alokasi dan efisiensi distribusi untuk menjaga ketersediaan stok secara berkala di tingkat regional.

Lonjakan Konsumsi, Disparitas Harga, dan Panic Buying
​Selain kendala pasokan, lonjakan konsumsi BBM bersubsidi (Pertalite dan Solar) juga dipicu oleh peralihan pengguna BBM nonsubsidi akibat kenaikan harga per 1 September 2026 yang memperlebar disparitas harga.

Berdasarkan rilis resmi Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, terjadi peningkatan kebutuhan BBM sebesar 10% hingga 15% pada periode Juni hingga Agustus 2026.

Kondisi ini kian diperparah oleh dugaan aksi panic buying serta indikasi penimbunan oleh oknum di lapangan.

Komitmen Pemda dan Satgas BBM
​Pemerintah Daerah Kabupaten Buol bersama Satgas dan para pemilik SPBU berkomitmen untuk memberikan pembaharuan informasi secara transparan dan tertulis agar tidak menimbulkan multitafsir di tengah masyarakat.

Pemda Buol juga menegaskan akan terus melakukan pemantauan ketat serta koordinasi aktif dengan pihak Pertamina guna memastikan distribusi BBM di wilayah Buol kembali lancar dan tepat sasaran.

#gobidik_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    - - -
    LAINNYA