Di Balik Trofi Bogor: Perjuangan Sunyi Atlet Tojo Una-Una Menuju Juara

waktu baca 2 menit
Rabu, 18 Feb 2026 20:27 297 Redaksi

Gobidik.com – Touna – Sulawesi Tengah, Atlet tenis asal Kabupaten Tojo Una-Una, Arif S. Bandu, meraih juara pertama dalam turnamen tenis yang digelar di Arena Tenis Bogor pada 1 Februari 2026.

Namun, di balik trofi kemenangan tersebut, tersimpan cerita perjuangan yang tidak banyak diketahui publik.

Arif mengungkapkan, dirinya bersama atlet lainnya harus berjuang secara mandiri untuk bisa mengikuti turnamen tersebut.

Sebagian besar biaya ditanggung sendiri, mulai dari pendaftaran, transportasi, hingga kebutuhan selama berada di lokasi pertandingan.

Bantuan yang diterima hanya berasal dari sponsor kecil dan dukungan terbatas dari KONI Tojo Una-Una.

“Iya, kemarin kami juga sempat ajukan proposal ke KONI Touna , Harapan kami sederhana, bisa bertanding dengan semangat dan sportif membawa nama daerah, lalu pulang dengan bangga,” ujar Arif kepada media ini, Rabu (18/2/2026).

Ia menjelaskan, awal mengikuti turnamen tersebut dengan mendaftarkan diri melalui penyelenggara berinisial FU dengan biaya sekitar Rp600.000.

Bagi atlet daerah, biaya itu bukan sekadar administrasi, tetapi bagian dari pengorbanan panjang demi bisa tampil di arena kompetisi dan membawa nama daerah ke tingkat yang lebih luas.

Namun setelah kemenangan diraih, total hadiah yang diterima Arif sekitar Rp12 juta, tetapi uang tunai yang diterima hanya Rp2,5 juta.

Sisanya berupa voucher yang tidak dapat dimanfaatkan secara langsung.

“Dari dua belas juta itu uang cash yang kami terima Rp2,5 juta, sisanya voucher, seperti voucher umrah Rp 6 juta.

Kecuali saya punya dana tambahan baru bisa saya gunakan,” katanya lirih.

Sebelumnya, melalui brosur promosi di media sosial, total hadiah turnamen disebut mencapai sekitar Rp120 juta untuk beberapa kategori.

Informasi tersebut menjadi motivasi bagi para atlet untuk ikut bertanding, sekaligus harapan agar biaya latihan dan perjalanan yang dikeluarkan secara mandiri dapat tertutupi.

Meski demikian, Arif mengaku tidak melayangkan protes keras atas kondisi yang dialaminya.

Ia memilih menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran berharga tentang realitas perjuangan atlet daerah yang sering kali harus berangkat dengan keterbatasan dukungan.

Arif berharap pengalaman yang dialaminya tidak terulang pada atlet lain di masa mendatang.

“Saya berharap ini menjadi pengalaman terakhir bagi saya, dan tidak terjadi lagi pada atlet lain,” pungkasnya

kisah Arif juga menggambarkan kenyataan yang dihadapi banyak atlet daerah, berjuang dengan kemampuan sendiri, bertanding dengan penuh semangat membawa nama daerah, tetapi belum selalu mendapatkan dukungan dan kepastian yang memadai.

#gobidik_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    - - -
    LAINNYA