
Gobidik.com-SIGA Gorontalo Sebut Pernyataan *Kadis Kesehatan Kota Gorontalo Dangkal dan Tidak Transparan:*
*Kasus Puskesmas Sipatana, Siapa Pembunuh yang Sebenarnya?*
Gorontalo — Polemik pelayanan kesehatan di Puskesmas Sipatana kembali memanas setelah Kepala Dinas Kesehatan Kota Gorontalo mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait kasus meninggalnya seorang warga yang gagal mendapatkan pertolongan cepat. Dalam pernyataannya, Kadis beralasan bahwa pihak yang memviralkan kasus tersebut “tidak ada hubungannya” dengan tugas pokok, karena yang bersangkutan adalah seorang bidan dan peristiwa itu bukanlah kasus kebidanan.
Pernyataan ini sontak memancing reaksi keras publik. Solidaritas Intelektual Generasi Aktivis (SIGA) Gorontalo menilai bahwa dalih yang disampaikan Kadis sangat dangkal, menyesatkan, dan jauh dari prinsip transparansi.
*Pernyataan Kadis Dinilai Mengaburkan Fakta*
Dalam klarifikasinya, Kadis menuturkan bahwa dirinya “tidak dihubungi” saat insiden terjadi dan baru menerima informasi sekitar pukul 17.00 dari Wali Kota Gorontalo.
*SIGA mempertanyakan logika pernyataan tersebut:*
“Bagaimana mungkin seorang kepala dinas mengharapkan dihubungi, sementara PSC 119 saja tidak ditrigger oleh tenaga kesehatan yang berada paling dekat dengan korban? Apalagi statusnya adalah sepupu korban sendiri.”
Menurut SIGA, justru pihak internal Dinas Kesehatan menunjukkan sikap mengabaikan kondisi kritis pasien, menunda tindakan dengan dalih penyuluhan dan prosedur birokratis. Dalam kondisi gawat darurat, setiap detik menentukan keselamatan nyawa seseorang.
“Apakah kewarasan di Dinas Kesehatan benar-benar tidak berjalan? Atau ada upaya menutupi kelalaian?”
— SIGA Gorontalo
SIGA menegaskan bahwa pernyataan Kadis justru membuka lebih banyak pertanyaan ketimbang memberikan kejelasan.
*Membela Bidan, Mengabaikan Pelayanan Gawat Darurat*
SIGA juga menyoroti keputusan Kadis yang terkesan melindungi oknum bidan bernama Bebi, staf Puskesmas Sipatana. Padahal, fakta yang muncul justru menunjukkan potensi kelalaian fatal dalam penanganan darurat:
Mengapa ia tidak langsung menghubungi PSC 119 yang memang disiapkan untuk respons cepat darurat kesehatan?
Mengapa ia memprioritaskan penyuluhan dibanding memberi pertolongan awal kepada pasien yang memohon pemasangan infus?
Jika pelayanan dasar gawat darurat saja tidak dijalankan, di mana letak profesionalisme?
SIGA menilai rangkaian tindakan bidan tersebut telah menyimpang dari SOP dan berkontribusi pada lambannya penanganan pasien.
*Siapa yang Sebenarnya Bersalah?*
SIGA menilai bahwa kasus ini kini melebar pada pertanyaan yang lebih fundamental:
Kepala Puskesmas yang diberhentikan sepihak?
Bidan yang bertindak di luar prosedur?
Atau Kepala Dinas yang gagal mengendalikan sistem dan mencoba cuci tangan?
SIGA menegaskan bahwa tanggung jawab struktural tidak bisa begitu saja dipatahkan pada satu orang yang dijadikan tumbal.
*SIGA: “Kami Akan Mengawal Hingga Kadis Dicopot”*
Koordinator SIGA Gorontalo, Agung Puluhulawa menyatakan bahwa pihaknya akan terus mendesak penegakan akuntabilitas:
“Kepala Dinas Kesehatan terkesan melindungi oknum dan mengorbankan fakta. Kami tidak akan berhenti sebelum kebenaran terbuka dan Kadis dicopot dari jabatannya.”
SIGA menilai sikap Kadis menunjukkan kecenderungan damage control daripada tanggung jawab moral atas sistem kesehatan yang dipimpinnya.
Kasus Ini Tidak Akan Berhenti di Sini
SIGA berkomitmen untuk mengawal kasus ini hingga tuntas melalui langkah-langkah:
✔ Mengungkap seluruh keterangan saksi dan keluarga korban
✔ Mendesak DPRD Kota Gorontalo menggelar RDP khusus
✔ Menagih pertanggungjawaban penuh dari Dinas Kesehatan
✔ Menuntut pencopotan Kepala Dinas jika terbukti gagal menjalankan tugas
SIGA menutup sikapnya dengan pernyataan tegas:
“Nyawa rakyat bukan bahan eksperimen birokrasi. Siapa yang lalai harus dihukum.”
#Gobidik_
Tidak ada komentar