Antara Etika Publik, Etika Pejabat, dan Etika Partai.* Fikri: Di Internal Nasdem, Rachmat Gobel Gagal Total Mendidik Kadernya.

waktu baca 2 menit
Rabu, 10 Des 2025 17:05 223 Redaksi

Gobidik.com-Gorontalo,Etika publik bukan sekadar teori. Etika pejabat bukan sekadar slogan. Dan etika partai bukan sekadar hiasan AD/ART. Ketiganya adalah fondasi moral yang wajib dipegang oleh siapa pun yang mengaku sebagai wakil rakyat. Tetapi apa jadinya ketika wakil rakyat justru mengabaikan amanah, dan partainya diam seribu bahasa?

Inilah yang terjadi pada Partai Nasdem Gorontalo.

Dua kader partai — Mikson Yapanto dan Loly Yunus — yang saat ini duduk sebagai anggota DPRD Provinsi, berulang kali mangkir dari rapat-rapat resmi lembaga tersebut. Bukan satu atau dua kali, tetapi 6 kali alfa dan 7 kali alfa tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Ini bukan lagi lalai—ini adalah penghianatan terang-terangan terhadap amanah rakyat.

Dan kegagalan terbesar tidak berhenti pada dua kader itu.

Kegagalan terbesar ada di tangan Rachmat Gobel, Ketua DPW Nasdem Gorontalo sekaligus tokoh yang selama ini mengaku peduli pada etika politik. Faktanya? Ia gagal mendidik, membina, dan mengawasi kadernya sendiri.

Bagaimana mungkin seorang pimpinan partai sekelas Rachmat Gobel membiarkan perilaku indisipliner seperti ini berlarut-larut? Bagaimana mungkin ia membiarkan dua kadernya mempermalukan lembaga DPRD dan mempermainkan kepercayaan rakyat?

Untuk apa menjadi wakil rakyat kalau rapat saja tidak sanggup dihadiri?
Untuk apa duduk di kursi DPRD kalau sekadar hadir pun dianggap beban?
Dan untuk apa Partai Nasdem bicara restorasi politik kalau kadernya justru merusak marwah lembaga?

Kita tidak bicara pelanggaran ringan.
Kita bicara pelanggaran berat.

PP Nomor 12 Tahun 2018 secara tegas membuka ruang sanksi keras hingga pemberhentian bagi anggota DPRD yang bolos rapat paripurna sebanyak enam kali tanpa alasan sah. Dua kader Nasdem sudah melampaui batas itu.

Jika Rachmat Gobel masih bungkam dan enggan bertindak, maka publik bisa membaca dengan jelas:
Nasdem tidak mampu mengendalikan kadernya sendiri.
Dan yang lebih parah: Nasdem sedang membiarkan pengkhianatan terhadap amanah rakyat berlangsung di depan mata.

Saat ini publik sedang menunggu:
Apakah Rachmat Gobel akan benar-benar berani menegakkan disiplin, atau justru hanya menjadi pimpinan yang sibuk dengan citra tetapi lemah dalam tindakan?

Jika tidak mampu memberikan PAW terhadap kader yang jelas-jelas melanggar aturan, maka tidak pantas Partai Nasdem berbicara tentang moral politik. Tidak pantas pula mengaku sebagai partai perubahan.

Yang rakyat butuhkan adalah ketegasan.
Dan bola itu ada di tangan Rachmat Gobel.
Berani atau tidak? Itu saja.

M.Fadli #gobidik_

(Fikri Abdullah)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    LAINNYA