Dugaan Pelecehan Seksual oleh Oknum Kepala Toko Alfa midi super Gorontalo, Aktivis Ancam Aksi Besar dan Boikot

waktu baca 2 menit
Senin, 2 Mar 2026 21:55 382 Redaksi

Gobidik.com – Gorontalo – Dugaan pelecehan seksual yang menyeret seorang oknum kepala toko ritel modern di Kota Gorontalo kini memasuki babak serius.

Gelombang kemarahan publik mulai meluas.

Isu ini tidak lagi dianggap sebagai persoalan internal perusahaan, melainkan persoalan moral dan hukum yang menyangkut keselamatan pekerja perempuan.

Aktivis muda Gorontalo, Agung Bobihu, secara tegas menyatakan bahwa jika dugaan tersebut tidak segera ditangani secara transparan, maka aksi demonstrasi besar akan digelar di depan gerai dan kantor terkait.

“Kami beri ultimatum kepada manajemen.

Jika tidak ada klarifikasi resmi dan langkah tegas terhadap oknum yang diduga melakukan pelecehan seksual, maka kami akan turun ke jalan.

Ini bukan isu sepele. Ini soal harga diri dan keamanan perempuan di tempat kerja,” tegasnya.

Menurutnya, relasi kuasa antara atasan dan bawahan sangat rentan disalahgunakan.

Jika benar terjadi, maka tindakan tersebut merupakan bentuk penyalahgunaan jabatan yang tidak bisa ditoleransi.

Agung juga menegaskan bahwa penyelesaian secara diam-diam atau upaya “damai internal” justru akan memperkuat budaya pembiaran.

Ia mendesak agar:

1. Manajemen segera melakukan investigasi terbuka.

2. Korban diberikan perlindungan dan pendampingan hukum.

3. Oknum yang diduga terlibat dinonaktifkan sementara selama proses pemeriksaan.

4. Jika terbukti, dilakukan pemecatan dan proses hukum sesuai aturan yang berlaku.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa gerakan boikot terhadap gerai tersebut akan menjadi opsi jika perusahaan terkesan menutup-nutupi kasus.

“Kami tidak ingin Gorontalo menjadi tempat subur bagi predator jabatan.

Jika perusahaan tidak tegas, maka masyarakat yang akan bersikap,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen terkait dugaan tersebut.

Publik kini menanti, apakah perusahaan berdiri di pihak keadilan atau memilih diam di tengah badai.

Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa tempat kerja harus menjadi ruang aman.

Jika tidak ada keberanian untuk membersihkan internal, maka tekanan publik akan menjadi jawabannya.

M.Fadli #gobidik_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    LAINNYA