Teras Literasi Hadir di Surakarta, Dorong Generasi Muda Jadi Kreator dan Penggerak Gagasan Menuju Indonesia Emas 2045

waktu baca 4 menit
Kamis, 13 Agu 2026 08:00 121 Redaksi

Gobidik.com – Surakarta, Jawa Tengah – Upaya memperkuat budaya literasi di tengah derasnya arus informasi digital terus dilakukan melalui berbagai ruang kreatif dan edukatif.

Salah satunya melalui Teras Literasi, kegiatan yang digelar di Rumah Banjarsari, Surakarta, pada 12–13 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Pioneer Talk, Argia Academy, Bukspace, dan Komunitas Rumah Banjarsari, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian CONNFEST 2026 Chapter Surakarta.

Mengusung semangat “Connecting Creators, Amplifying Indonesia”, Teras Literasi dirancang sebagai ruang perjumpaan bagi kreator, komunitas, dan generasi muda untuk bertukar gagasan, membangun jejaring, serta mendorong lahirnya karya dan konten positif.

Literasi di Tengah Ledakan Informasi Digital
Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam membedakan informasi yang valid dengan informasi yang belum terverifikasi.

Karena itu, literasi tidak lagi cukup dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis.

Literasi juga mencakup kemampuan memahami konteks, memilah informasi, berpikir kritis, memahami teknologi, serta melihat persoalan secara lebih jernih.

Dalam siaran pers kegiatan, penyelenggara menyoroti fenomena seperti hoaks, post-truth, echo chamber, polarisasi media sosial hingga informasi yang dihasilkan kecerdasan buatan atau AI.

Informasi yang terpotong dapat dengan mudah diterima sebagai kebenaran apabila tidak disertai proses verifikasi.

Kondisi tersebut membuat kemampuan literasi semakin penting, khususnya bagi generasi muda yang setiap hari berinteraksi dengan berbagai platform digital.

Bukan Sekadar Membaca Buku
Teras Literasi membawa pendekatan yang lebih luas.

Kegiatan tidak hanya menghadirkan ruang membaca dan diskusi buku, tetapi juga mempertemukan masyarakat dengan berbagai aktivitas kreatif.

Berdasarkan materi kegiatan, agenda selama dua hari antara lain mencakup AI Content Creator Bootcamp, lapak buku dan komunitas, talkshow, bincang buku, pertunjukan musik, serta kegiatan nonton dan diskusi film.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa literasi dapat dikembangkan melalui berbagai medium yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diharapkan menjadi konsumen informasi, tetapi juga didorong menjadi pencipta gagasan, karya, dan solusi.

Semangat itu sejalan dengan gagasan besar mengenai pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi tantangan bangsa.

AI Content Creator Bootcamp hingga Diskusi Film
Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah AI Content Creator Bootcamp, yang memberikan ruang pembelajaran mengenai pembuatan konten berbasis kecerdasan buatan.

Kehadiran materi tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin memengaruhi cara masyarakat memproduksi dan mengonsumsi informasi.

Namun, pemanfaatan teknologi juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis.

Teknologi dapat menjadi sarana untuk menghasilkan karya dan memperluas kreativitas, tetapi pengguna tetap dituntut memahami konteks serta bertanggung jawab terhadap informasi dan konten yang dibuat.

Selain kegiatan berbasis teknologi, Teras Literasi juga menghadirkan lapak buku dan komunitas, bincang buku, talkshow, serta nobar dan diskusi film.

Rangkaian tersebut mempertemukan kegiatan membaca, berdiskusi, berkarya, dan berekspresi dalam satu ruang yang terbuka bagi komunitas dan generasi muda.

Musik dan Komunitas Jadi Bagian dari Literasi
Teras Literasi juga dikemas dengan pertunjukan seni dan musik. Materi publikasi kegiatan mencantumkan agenda live performance sebagai bagian dari rangkaian acara.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa ruang literasi dapat dikembangkan secara kreatif tanpa kehilangan tujuan utamanya, yakni membangun kebiasaan belajar, berdiskusi, bertukar gagasan, dan menghasilkan karya.

Selain kegiatan di Rumah Banjarsari, sejumlah komunitas di kawasan Soloraya juga disebut ikut berpartisipasi dalam kegiatan komunitas, antara lain melalui lapak buku, diskusi, dan pertunjukan.

Dengan keterlibatan berbagai komunitas, Teras Literasi diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan selama dua hari, tetapi dapat menjadi ruang pertemuan dan jejaring bagi pegiat literasi serta generasi muda.

Menyiapkan Generasi Menghadapi Indonesia Emas 2045
Penyelenggara menempatkan literasi sebagai bagian penting dari upaya mempersiapkan generasi menghadapi masa depan.

Generasi muda dinilai perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan utama bangsa, membedakan antara gejala dan akar persoalan, mengenali hambatan kemajuan, serta merumuskan gagasan dan solusi yang relevan.

Dengan kemampuan tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi dan konsumen informasi, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai pencipta karya dan penggerak perubahan.

Semangat itulah yang dibawa melalui Teras Literasi. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui partisipasi aktif generasi muda dalam menjawab berbagai tantangan zaman.

Dari Rumah Banjarsari untuk Gerakan Literasi
Pemilihan Rumah Banjarsari sebagai ruang kegiatan memberikan suasana yang lebih dekat dengan komunitas.

Berbagai agenda yang disiapkan mempertemukan unsur pendidikan, kreativitas, teknologi, buku, seni, dan diskusi.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa penguatan literasi dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana di tengah masyarakat.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memeriksa, memahami, mengolah, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Teras Literasi diharapkan menjadi salah satu ruang yang mendorong semangat tersebut sekaligus memperluas jejaring antara kreator, komunitas, akademisi, dan generasi muda.

Pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang membaca buku, melainkan tentang kemampuan memahami dunia, berpikir kritis, menghasilkan gagasan, dan menghadirkan solusi.

Dari Surakarta, semangat tersebut diharapkan terus tumbuh menjadi gerakan yang lebih luas dan memberi kontribusi bagi lahirnya generasi Indonesia yang kreatif, kritis, produktif, serta mampu menentukan arah masa depan bangsa.

#gobidik_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    - - -
    LAINNYA